Juni 10, 2013

Singapore Day Out

Lama penerbangan hampir 4 jam via Lion Air dari Ho Chi Minh ke Singapore. Sebuah penerbangan yang paling aneh yang pernah aku alami. Tanya kenapa? Aneh karena berbarengan orang kaya yang bisa beli tiket pesawat tanpa mengerti aturan fundamental penerbangan dan membahayakan keselamatan penumpang lain. Sibuk telepon dan SMS di saat pesawat tinggal landas. Menyaksikan satu bule berpakaian eksekutif, yang seharusnya lebih pintar, sedang memarahi pramugara gara-gara meminta mbak-mbak disampinganya untuk menutup telepon dengan segera karena pesawat sedang take off. Sungguh kasihan sekali para awak kabin yang bolak balik mengingatkan penumpang. Aku duduk di kursi yang berdekatan dengan pintu emergency. Ku lihat wajah yang semula tersenyum manis sekarang menjadi kecut saat duduk di bangku di depanku. Aku tersenyum sambil bilang, Sabar ya mas... si Mas pramugara dengan tersenyum bilang, sudah biasa mbak, selalu begini kalau dapat penerbangan dari Vietnam.

Perjalanan cukup menegangkan karena wilayah Semenajung Malaka hujan dengan petir yang berkilat-kilat. Badan pesawat kadang mengalami turbulence yang cukup kuat. Dalam hati aku cukup ciut dengan keadaan ini. Dan saat pesawat hendak landing bunyi ponsel pun mulai bersahut-sahutan. Syukurlah, pesawat bisa mendarat dengan sempurna. Welcome to Singapore...

Keluar pesawat aku yakin kalau keril di bagasi bakalan lama keluar. Maka dari itu aku memilih untuk browsing internet. Di beberapa pojok memang ada komputer untuk internetan gratis. Setelah mengecek beberapa email, baru aku menuju ke immigrasi. Proses imigrasi terbilang lancar. Setelah mendapat stempel masuk, aku segera ke ruang bagage claim.

Keluar dari bandara aku bertemu dengan segerombolan turis, lagi-lagi dari Indobesia, yang mencari stasiun MRT. Setelah berkenalan, akhirnya aku memutuskan gabung dengan mereka karena di Singapore aku juga belum booking hostel manapun. Gak gitu familiar denga bandara Changi kami sempat tersesat untuk mencari MRT airport link di Terminal 1. Sempat kesasar beberapa kali juga dan akhirnya ketemu. Ini peta MRT dan LRT yang aku download dari website Wisata Singapura

Peta MRT dalam Airport Changi


Masuk ke wilayah stasium MRT dalam kota di Terminal 2, rombongan teman baruku membeli day pass unlimited untuk transportasi mereka selama di Singapore. Aku sebenarnya sudah berbekal EZ-Link, kartu pass untuk MRT yang bisa di top up. Tapi ga ada salahnya untuk mencoba day pass unlimited. Untuk 1 hari keliling Singapore menggunakan bus atau MRT sudah tidak bayar lagi. Harganya $10 plus $10 untuk deposit. Deposit akan dikembalikan pada saat pengembalian kartu.

Unlimited Tourist Pass
Naik MRT rasanya seperti naik BTS di Thailand. Semuanya berjalan lancar dan teratur. Karena teman-teman baruku menginap di Traveller@SG di daerah Lavender, aku pun ikut dengan mereka dan finger crossed supaya masih ada kamar kosong. Namanya juga traveller, penjelajah, gak seru kalo gak pakai tersesat. Muter-muter di King George sampai ditunjukin arah yang sebenarnya berlawanan oleh seorang uncle ramah sampai nyasar nyasar kelewat jauh. Sejujurnya aku sudah mulai kecapaian dengan 13 kilo beban di punggung yang sejak keluar bandara gak pernah dilepas. Dan akhirnya ketemu juga hostel. Jaraknya cuma 10 meter dari lapangan baseball yang kami lewati tadi. Dan yuhuuu... ada kamar kosong. Bahkan kami semua ditaruh dalam satu kamar. Harganya $21 dolar dengan $10 dollar deposit yang akan dikembalikan saat check out.

Nikmatnya bisa meluruskan badan dan kaki. Kalau diturutin keinginan badan, aku pengen banget langsung tidur.Tapi teman-teman sudah bersemangat untuk explore ke Marina Bay Sand malam hari, jadi hayuuk saja.

Kami naik MRT dari Lavender ke Raffles Place. Turun dari Raffles Place agak-agak bingung liat taman dan juga gedung tinggi. Mengandalkan GPS yang ternyata kita salah bacanya hahaha. Akhirnya pakai GPS mulut saja, nanya sama mbak-mbak yang kebetulan lewat depan kita. Sumpah, aku ga bosan-bosan salut sama negara ini. Gak ada yang buang sampah sembarangan, ga ada yang menerobos rambu lalu lintas biar ga ada polisi walaupun jalanan sepi. Semua taat dan rapi. Mungkin karena negara kecil dengan rakyat seuprit, jadi gampang ngaturnya kali ya. Akhirnya setelah kita beberapa kali bertanya, sampai juga di Merlion.

Merlion, simbol Singapore yang terkenal itu terletak diseberang Marina Bay Sands yang sekarang ini juga menjadi landmark Singapore. Dari Merlion sudah terlihat gemerlapnya Marina Bay. Yep, lokasi ini selain tempat fine-dinning juga merupakan obyek yang menarik saat malam hari untuk menikmati suasana Singapore malam hari. Setelah puas dengan foto hunting kami pulang untuk mengejar MRT terakhir.
Laser Show di Marina Bay Sands
 

Pagi harinya kami bangun sekitar jam 7 pagi, menunggu giliran mandi dan siap-siap. Kami sarapan di stasium Lavender. Sebenarnya di hostel juga ada free breakfast, tapi karena roti gak nendang makan kami lebih memilih mencari nasi di restoran. Ada resto take away yang menyediakan makanan $2 sebungkus. Plus es kopi di Kopitiam seharga $1.25 yang ajieb rasanya. Sebenarnya beli es kopi di Kopitiam hanya untuk numpang makan. Rasanya sungkan mau makan di jalan atau di taman kota.

Hari ini kita mau ke Gardens By The Bay. Dari Lavender ke Marina Bay dengan berganti MRT di Raffles Place. Sampai di St. Marina Bay lewat sebuah terowongan bawah tanah (under ground link way) yang full kaca sehingga kita bernarsis ria. Terowongannya bersih, gak ada secuil sampah apalagi tuna wisma atau pengemis mangkal. Gak panas karena sudah full AC. Tempat ini benar-benar seperti lorong sebuah mall.
Travel-mate of the day - Andi, Ainun, Neneng, Panji 
Begitu tiba kembali dipermukaan disambut dengan matahari yang menyengat. Marina Bay Sands berdiri dengan megah dibelakang. Yup.. saatnya untuk narsis!! Di Garden By The Bay ada yang gratis dan ada yang gak. Untuk Outdoor Gardens tidak perlu bayar alias gratis, Conservatories dikenakan biaya $8-$28, tiket Skyway $3-$5, tiket Gardern Cruiser $3-$5. Tapi aku sudah puas di outdoor gardens saja. Suasana dan juga tatanan taman ni sangat indah. Betah banget duduk diantara pohon dan menikmati indahnya pemandangan.

Setelah di rasa cukup, kami kembali ke stasiun MRT menuju ke Orchard Road. Pengen tahu Orchard Road yang terkenal itu. Tapi ternyata salah waktu. Hari Minggu jalan itu seperti lautan manusia. Hari Minggu merupakan hari libur para pekerja rumah tangga dan agaknya Orchard Road merupakan tempat favorit mereka berkumpul. Bahkan stasiun MRT pun penuh sesak.


Setelah berkeliling sebentar kami kembali ke stasiun MRT dan menuju Bugis. Pengen shopping barang murah? Disini tempatnya. Meski aku bukan tipe tukang belanja, ternyata dari semua negara yang kukunjungi, justru paling kalap disini. Karena berpikir ini adalah tempat yang pas untuk membeli oleh-oleh, tanpa harus  menggotongnya berhari-hari. Akhirnya tangan gak sempat pegang kamera lagi.


Jam 4 sore kami kembali ke hostel. Aku bersiap-siap dan packing. Aku makan sore sebentar karena seharian makanan yang masuk hanya sarapan tadi pagi. Terlalu bersemangat buat jalan-jalan sepertinya hingga melewatkan makan. Kembali naik MRT keChangi Airport, tak lupa untuk menukarkan Tourist Day Pass. Lumayan $10.

Sambil menunggu check out aku melihat sesuatu yang cantik ini. Tetesan-tetesan gelas ini bergerak dan membentuk pola sesuai dengan irama lagu. Cantik banget... Well, aku akan kembali ke Singapore lagi suatu hari nanti. Untuk mengunjungi beberapa tempat yang tidak sempat ku kunjungi karena keterbatasan waktu. Good bye Singapore, I'll see you in another time...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar