Agustus 28, 2014

Health Up!!

Setelah curcol gw sekitar 2 minggu lalu, gw mulai aktif dengan yang namanya gerak badan. Noooo. Bukan nge-gym ya. Sebagai perempuan ekonomis gw nyari gratisan dong. Haha. Tapi nyari tempat umum yang enak buat jogging di Jak-Sel emang nyaris gak ada. Yang gw tahu cuma hari Sabtu atau Minggu di K.B Ragunan sering digunakan untuk jogging di pagi hari. Soooo... gw bela-belain dan mendisiplinkan diri buat pergi ke GBK (Gelora Bung Karno) buat jogging malem on weekdays. Kadang kalau ada lawan diselipin dengan main squash. Disiplin, setidaknya 3 weekdays gw harus jogging ( biasanya tiap Senin-Rabu-Jumat ). Yah lumayan walau hanya 5-6 putaran lari kecil plus jalan cepat yang bikin keringet mengalir deras. Walau kebanyakan jalan sih... larinya dikit hahaha.
Selain itu, tiap weekend suka nyemplung ke kolam renang. Kalau gak di kolam Senayan ya nebeng sama temen yang tinggal di apartement.Astaga... terlalu ekonomis gak sih gw??!!! hihi. Kalau kepepet ya ke Parklane, bayar 50rb.
Okey, pola makan sedikit-sedikit memang agak berubah lebih sehat. Gw gak kecanduan sama kafein lagi which is very good. Hal itu juga mengurangi jatah minum manis gw dan memperbanyak minum air putih. Makan malam udah ilang karena kecapekan habis jogging. Biasanya balik rumah - mandi - molor.... Hasilnya, badan rasanya makin ringan. Tapi sampai saat ini belom berani lirik timbangan... so, tunggu berita selanjutnya... Cheeers!!

Agustus 12, 2014

Infinity Grey

Siang-siang seorang teman whatapps kalau mamanya mau pergi ke negara yang dingin dalam waktu dekat. Jadi beliau butuh syal yang super anget. Aku ingat masih punya sisa benang yang cocok untuk sebuah syall. Tapi ternyata tidak. Benangnya harus nambah 3 gulung lagi haha.
foto dari ETSY
Idenya seperti gambar di atas. Syal berbentuk circular / lingkaran. Terbuat dari wool merk Nokumori - Jepang. Polanya sederhana. Hanya dengan menggunankan aplikasi tusuk chain (ch), slip stich (ss), double stich (ds) dan back loops only (blo) yang menambah aksen dari syal tersebut. Eh, aku gak ngerti bagaimana menjelaskan istilah tusukan ini dalam bahasa Indonesia. Karena aku belajar di internet yang kebanyakan pakai bahasa Inggris - minta di lempar bakiak. Jadi sebaiknya kalau yang mau buat belajar tusuk dasar dulu hahaha - maap...

Pembuatannya sebenarnya tidak lama karena menggunakan benang wool, hook nomor 10mm, which is  bakalan gede-gede dan cepet banget. So, lets get started :
- chain (ch) 110 tusuk atau sekitar 120 senti jika menggunakan benang dan hook lain, slip stict (ss).
- c.h 3 kemudian d.s pada loop (tusukan) bagian belakang saja, sampai tusukan terakhir, kemudian s.s
- ulangi sampai 10-12 row tergnatung ketebalan / lebar yang diinginkan.

Jadinya akan seperti ini...




Agustus 11, 2014

Confession of Unhealthy Life

From this...
 to thissss....




Yeah... tell me about it. Gw GENDUT. Dalam 10 tahun gw melar hingga 15 kilo dari berat awal yang hanya 47. Salahkan saja gorengan, nasi goreng, batagor, teh botol dan nasi padang. Makanan super yummy kek gitu gak ada di negara yang pernah gw singgahi sebelum balik ke Indonesia Raya. Lebih lagi gw males olah raga dan mengandalkan metabolisme badan yang nyata-nyata gak bisa diandalkan sama sekali.

Gw pernah ikut gym yang setahun bayar 3jt-an setahun, pernah yoga setahun, pernah OCD tapi cuma tahan 2 minggu dan gak pernah berhasil hahaha. Jadi apa yang salah sama gw ? Yep!! Gw memang gak pernah bisa kontrol makanan dan juga minus olah raga. Ya ya... 

So, gw harus challenge  diri gue selama 100 hari at least untuk disiplin berolah raga dan menjaga makanan serta mengurangi gorengan dan sebagainya.
 
May the odds be ever in my favour....

Agustus 04, 2014

Cool Grey Srug

Grey Srug ini cukup hangat untuk di pegunungan. Bahannya dari wool Jepang yang halus dan hangat. Pembuatannya mudah sekali untuk pemula, namun benang yang dipakai memang termasuk mahal. Aku beli sebanyak 24 gulung benang karena isinya hanya sedikit per gulungnya.

Bahan :
-  Benang Wool / Bulk ( bisa disesuaikan dengan keinginan )
-  Hook ukuran 9.5mm

Tusuk yang digunakan : chain dan double stitch (untuk pemula)

Untuk mengukur gauge range atau keelastisan antara benang dan jaruk hook. Caranya buat chain sebanyak 25 chains. Kemudian buat double stitch (d.c) diatas chain tersebut. Setelah jadi, ukur untuk 10 cm berapa d.c yang di dapat sehingga kita bisa mengira-ira berapa banyak chain ynag harus kita buat sebagai landasan.

Pembuatan ;
- Buat chain sepanjang 120 cm.
- D.C untuk setiap chain tersebut. Balik dan ulangi d.c pada lajur ke 2 dan seterusnya sehingga mempunyai lebar sekita 70 senti. Berarti telah telah terbentuk persegi panjang dengan ukuran 120 x 70 senti.
- Lipat menjadi 2 bagian dengan ukuran 120 x 35 sent.
- Dari ujung yang terbuka, jahit dengan benang yang sama sepanjang 22 senti. Begitu pula dengan ujung yang satunya.
- Balik bahan sehingga jahitan berada di dalam dan srug tersebut telah siap.



Juli 17, 2014

Motif "Granny" Sederhana

Saat 'menjelajah' di internet dan menemukan foto ini, aku langsung jatuh cinta. Aduuuh...lupa dimana aku menemukan gambar dan link. Nanti kalau ketemu, akan posting di blog sebagai referensi deh.

Motifnya sangat mudah. Ini kalau tidak salah motif dasar saat membuat rajutan taplak meja jaman sekolah dulu. Cuma ada modifikasi sana sini untuk dijadikan sebuah kardigan. 

Bahan :
- Rayon Viscose
- Hook ukuran 5

Aplikasi tusukan : chain dan  double crochet (d.c) untuk pemula


Sedikit memodifikasi di beberapa bagian karena aku ingin bagian ekor (belakang-bawah) tidak ingin terlalu panjang, lebih kecil dibagian pundak supaya tidak kedodoran dan sedikit membentuk badan, dan bagian depan lebih lebar.

Jadi, inilah jadinya. Serupa tapi tak sama. Cheers!! :)


Mei 19, 2014

Maple Sederhana

Seni rajutan ternyata tidak harus berupa taplak meja, tas, topi dan syal. Tapi bisa juga berbentuk daun, bunga yang cantik dan juga binatang. Saat melihat-lihat Pinterest aku tertarik dengan bentuk daun ini. Setelah mencermati dengan teliti dan menirunya, jadilah daun ini. Haha... lucu juga dan mirip dengan gambar aslinya.

Hmm.. daun ini bisa menjadi bag tag atau gantungan kunci. Atau nanti dikumpulkan dengan bunga-bungan dan daun-daun lain jadi hiasan 3 demensi? hm.. good idea.

Mei 15, 2014

Motif Sederhana

Okey. Jadi aku lihat tas rajut yang super keren. Tidak pernah terbayangkan kalau tas rajut bisa sekeren itu. Dalam bayanganku tas rajut mah yang jadul dan biasa banget. Eh, penemuan baru, ternyata tas rajut The Sak itu ternyata buatan Indonesia. Yogyakarta lebih tepatnya. Di dalam negeri lebih dikenal denga tas "Dowa". Aih... betapa ketinggalannya aku.

Kemudian dengan bantuan engko pemilik toko benang di toko Sunflower, aku dikasih tau bahan yang tepat untuk membuat tas rajut. Jadilah tas rajut sederhana dengan pola seadanya ini. Tas santai buat nge-mall atau traveling.



Terbuat dari benang nylon ukuran 18. Ukuran hakpen 4. Ukuran tas : 30 x 30 cm. Ukutran tali 40 cm. Haha... ternyata buatnya lama ( hampir 2 minggu!! ), karena ukuran benang nilon kecil. Tapi hasil rajutan halus dan rapat. Kalaupun tidak memakai dalaman atau lining juga tidak masalah. Artinya barang tidak tercecer kemana-mana. Tas ini juga mudah di cuci dan kuat looh...

Mei 01, 2014

Sunset Bolero


Ternyata selain 'membolang' aku mempunyai bakat terpendam lain. Merajut. Dalam bahasa inggrisnya disebut crocheting. Pada dasarnya aku kenal merajut ini sejak SD. Dulu ada pelajaran prakarya yang mengajarkan cara untuk membuat rajutan taplak meja, menyulam sapu tangan dan kristik - cross stich. Tapi setelah sekian puluh tahun, aku tidak pernah lagi membuat salah satunya. 

Jadi bermula saat aku  melihat sebuah bolero yang cantik dengan harga selangit di sebuah majalah luar negeri, aku menjadi tertantang untuk membuatnya.

Dimana belajarnya ? Belajar bisa dari mana-mana asal ada kemauan. Pada dasarnya aku jenis orang want to know everything - eh, bukan kepo ya hihi - dan juga eager to learn. Untuk belajar lagi aku lihat buku, artikel, tutorial yang ada di internet. Tapi memang dibutuhkan kesabaran untuk mencari pelajaran yang tepat karena begitu banyak tutorial di internet. Selain itu merajut diperlukan sebuah kesabaran, pengetahuan tusuk dasar dan pengenalan jenis benang dan hakpen/jarum yang baik. Banyak ya... hahaha, nanti kalau sudah terbiasa feeling-nya akan dapet :)

Saat berburu di alat rajut aku menemukan banyak link toko online. Ada juga referensi toko benang yang 'cukup' murah di Jakarta. Aku melihat satu benang sangat menarik perhatian karena warnanya orange - I love orange :) - rame seperti sunset. Tidak tahu mau buat apa, yang penting aku membeli benang itu dengan ukuran hakpen yang direferensikan. Tidak tanggung-tanggung aku beli 10 gulung haha. Takut benang habis dan saat membuatnya jadi kurang benang kan lucu. Tidak tahu mau buat apa, akhirnya buat cardigan saja. Browsing gimana buatnya... bla bla bla. Akhirnya ketemu jenis bolero - kardigan lengan pendek - yang paling mudah menurutku.


Benang yang kupakai jenis rayon merk Viscose ukuran 15. Benangnya adem dan tidak panas untuk negara tropis, serta warnanya keluar - agak mengkilap. Jarum yang kugunakan ukuran hakpen nomor 5. Banyak benang 7 gulung. Lama pengerjaan, karena ngebut, 4 hari.
Pada awalnya, bolero ini dibuat untuk diri sendiri. Tapi karena tetangga kepingin, akhirnya dibeli. Aku buat lagi yang sama, tapi malah di beli oleh teman yang melihat. Hah!! Otak bisnis pun jalan. Lumayan kan bisa buat beli benang lagi. Jadi sebelum dikirim ke Malang, saya foto dulu untuk dokumentasi blog. Bolero ini cocok untuk santai dan formal. Kalau ada yang berminat, aku sekarang menerima pesanan. Hihihi.... ^.^




April 23, 2014

Merajut yang Terlupakan

Sumpah gw bete. Memendam perasaan suntuk yang amat sangat saat berada depan lappie dan gak tau mau ngapain. Yang ada menatap kosong layar LCD si lappie seperti idiot. Ketik...tik tik tik tik tik...hapus. Ngetik lagi...hapus lagi. Huft, keknya imajinasi gw buat nulis sudah mulai luntur karena faktor U hahaha. Tapi apa bisa begitu ? Sobat gw bilang, lo harus sering latihan nulis lagi Tine... Aaaargh, gampang banget bilang gitu. Kenyataannya susah, chuy....sejaman depan lappie satu paragraf aja gak bisa. I NEED A MUSE!!! 

Capek bengong di depan lappie gw telepon ibu. Dari percakapan dengan ibu yang biasa berkisar soal beliau lagi ngapain, masak apa hari ini trus sampai ke soal pelanggan jahitan ibu. Ibu lagi bingung gimana bisa mengembangkan ide jahitannya. Scara jahitan beliau adalah model jahitan jadul. Ibu bilang beliau ingat bagaimana kreatifnya gw saat SMP. Bikin cross stich lah, menyulam lah, segala macam ketrampilan bisa muncul karena lihat majalah saja, dan ibu bilang iri sama gw. Ah...ibu bener-bener bikin pipi gw merona. Dan kemudian... A-HA!! Ide itu muncul begitu saja.

Gw tau, begitu gw dapet ide, gw gak akan berenti sampe gw dapet bayangan gimana, bagaimana bentuknya, apa yang harus gw lakukan, dan...suddenly I made a very BIG picture in my mind. Very big it blown my mind. Oh my... hahaha.

Dalam pikiran gw, gw ngebayangin sebuah toko mungil dengan pernak-pernik feminin, kasual dan... itu cuma punya elo. Punya lo seorang... YEP!!

Dan.... inilah hasil awal dari mimpiku disini

Maret 09, 2014

Jelajah Curug Nangka (lagi) dan Curug Luhur

Jakarta sooo hawt beberapa hari ini. Kepikiran melipir kepinggiran Bogor nyari yang ijo-ijo sambil sedikit olah raga. Teringat terakhir ke Curug Nangka sudah sore dan hujan gerimis. Jadi hari ini pengennya kembali ke Curug Nangka dan menjelajah sepuasnya.

Dari rumah naik metromini ke Pasar Minggu terus lanjut dengan naik Comuter menuju ke Stasiun Bogor. Seharusnya kami berkumpul jam 9 pagi di St. Bogor, tapi seperti biasa... molor hahaha. Di St. Bogor aku tiba sekitar jam 9.10 dan mencari Maria dan Siska yang sudah dulu sampai. Perlu diketahui kami belum pernah bertemu. Kebiasaan traveler buat mengompori traveler lain agar dirinya gak jalan sendiri hehehe. Gak ada kata awkward saat pertama kali ketemu. Kelucuan adalah saat kali saling berteleponan pada jarak 2 meter ditengah keramaian stasiun. Setelah berkenalan, kami menuju ke KFC, spot yang paling mudah temukan untuk dijadikan meeting point dan kebetulan aku juga belum sarapan.

Sambil makan menu sarapan di KFC, kami bercerita sambil menunggu yang lain. Kemudian datanglah Paijo dan Fernandes, terus Lenny danakhirnya Hardyman. Jam menunjukan pukul 10.3 saat kami hengkang dari KFC kemudian naik angkot jurusan BTM (Bogor Trade Mall) dengan ongkos 2 ribu. Dilanjutkan dengan jalan naik angkot warna biru jurusan Ciapus, bilang saja ke Curug Nangka abangnya pasti tau, ongkosnya sekitar 4ribu. Kemudian jalan kaki sekitar 1,5 KM ke gerbang Curug Nangka.

Retribusi Curug Nangka sekarang dengan sekitar bulan November tahun lalu sudah naik 5rb rupiah. Dulu cuma 10rb, sekarang 15rb. Oh well... apa mau dikata, yang penting kita bisa refresing. Tapi begitu masuk langit pun mulai menggelap #sigh..

Curug Nangka
Merupakan curug yang paling bawah tapi juga paling tinggi. Untuk sampai ke curug ini kita harus menyusuri sungai kecil yang diapit dua tebing curam dengan ketinggian air selutut. Pada saat banjir atau sungai meluap akan sangat berbahaya dan tidak mungkin menuju ke Curug Nangka. 
Curug Cidaon
Merupakan curug kedua dan terendah. Tapi ini curug yang terindah diantara ketiganya menurutku. Bukan karena ketinggiannya, tapi karena bentuk aliran airnya. Menuju kesana kami harus mendaki sekitar seratus meter dengan tanjakan lumayan curam. Sekitar curug ini banyak monyet berkeliaran, jadi hati-hati kalau bawa makanan. Yang ada malah rebutan makanan sama monyet. Seperti anak SMA di depan ku hahaha.

Curug Kaung
Kawasan Curug Nangka ini terdiri dari 3 bagian. Paling jauh adalah Curug Kaung yang terletak di ujung trekking. dari bawah dibutuhkan perjalanan sekitar 15 menit trekking di bebatuan licin dan menyeberangi sungai beberapa kali. Saat sampai di curug ini hujan mulai turun, jadi penjaga curug mengingatkan kami untuk cepat-cepat kembali ke bawah. 
Sampai di bawah hujan turun lumayan deras. Kami berteduh sambil menikmati kopi panas dan juga makanan wajib kalo lagi traveling .... MIE INSTANT!! Makan, ngobrol sambil menanti hujan reda. Kemudian kami turun untuk melanjutkan perjalanan ke Curug Luhur.

Saat di persimpangan tempat angkot ke arah Curug Luhur, aku sempat bertanya kepada mbak-mbak penjaga warung, "Ke Curug Luhur kira-kira berapa kilo ya mbak?" Mbak nya bilang 2.5 kilo. Karena hanya 2.5 kilo kami memutuskan jalan kaki saja. Sekalian olah raga, toh udara lagi enak di buat jalan karena habis hujan. tapi astajiiiim.... 2.5 kilo-nya mbak itu sepertinya buat semut kecil. Sepertinya kami sudah berjalan cukup lama dan blom ada tanda-tanda ketemu dengan curug itu. Akhirnya kami bertanya lagi pada penduduk. dan bapak itu bilang mungkin 5 kilo lagi #tepok jidat.

Akhirnya kami mendapat tumpangan mobil bak. Walaupun gak sampai ke curugnya, minimal kami bisa lebih dekat karena kami benar-benar penasaran. Dari nebeng mobil bak terus lanjut jalan sedikit terus ada angkot lewat dan kami naik sampai depan gerbang Curug Luhur. Ternyata... perjalanan dari pertigaan Curug Nangka ke Curug Luhur sekitar 6 kilo teman-teman. Jadi lebih baik naik angkot.

Hahaha... hasil gak tanya-tanya sama Om Gugel nih. Buat kami Curug Luhur sungguh mengecewakan. Selain tiket masuk yang astajiim mahalnya (40 ribu seorang) curug Luhur ternyata sudah menjadi tempat permainan anak-akan. Hadeeeh, mengingatkan diri sendiri, sebelum pergi browsing dulu chuy....Anyway, perjalanan ini asik banget. Selain refresing, mendapat teman baru, ketawa ngakak di kereta - membicarakan imajinasi palung aneh sejagat - dan puas ketawa ngakak, membuat aku berasa fresh lagi. Thanks guys, kapan-kapan kita travel bareng lagi.

NGETENGERS
 dari fotoFerdinand

 
 

Desember 30, 2013

NYE Trip : Lagi-Lagi Prambanan dan Taman Sari


Pagi ini, tempat makan Edu Hostel penuh oleh para abege anak SMA Serang yang sedang 'piknik' ke Yogya. Saking penuhnya tempat makan di dalam hostel, aku dan 2 cewek sekamar yang baru ketemu semalam memilih makan diluar ruangan. Matahari bersinar dengan riang gembira. Baru duduk sebentar saja kami sudah keringetan. Padahal jam baru menunjukan jam 8 pagi. Fiuh... mudah-mudahan hari ini gak panas banget seperti kemarin. Seperti biasa, Manu jadi pusat perhatian. Doi di interview oleh guru-guru SMA itu. Sedang Hardy melipir ke meja kami bertiga.

Sekitar jam 9 kami berjalan kaki sekitar satu kilometer dari hostel ke arah halte Trans Jogja Taman Pintar. Busway ala Jogja ini langsung menuju ke terminal depan Candi Prambanan. Dari terminal Prambanan tinggal jalan kaki masuk ke area candi. Seperti kemarin, perbedaan harga tiket lokal dan mancanegara bikin aku aku nyengir you-know-why ke arah Manu. Untungnya si Manu masih punya student card yang bisa  dapetin diskonan. Lumayan diskon 50 ribu ya...
Seperti Borobudur kemarin, Candi Prambanan juga penuh dengan pengunjung. Sudah banyak orang di sekitar pelataran candi dan aku menduga di dalam candi pasti sudah penuh sesak. Pupus sudah buat cari spot foto bagus, foto narsis, dll. Tapi kemudian kami melipir kearah luar area candi untuk menghindari para pengunjung yang membludak dan mencari sudut foto yang baik.
Setelah muter-muter, bernarsis ria dan syukurlah...no more interview for Manu, kami kembali ke terminal Trans Jogja. Tapi tepat sampai di terminal, hujan turun dengan lebatnya. Padahal tadi panasnya minta ampun. Benar-benar cuaca yang aneh.

Setelah menunggu kira-kira 30 menit, akhirnya busway datang juga. Beruntung kami mendapat tempat duduk karena perjalanan cukup lama karena koridor busway muter-muter. Sampai di halte dekat pasar Beringharjo kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki ke Taman Sari. Hujan gerimis masih lumayan lebat. Aku buka payung sambil melirik para cowok rela berhujan-hujan daripada dibilang ga macho karena pake payung. Hah!!

Melewati pasar burung lama (pasar Ngasem) kami mengikuti labirin (karena jalannya benar-benar sempit seperti lorong) kampung Taman Sari menuju ke masjid tua yang berada di bawah tanah. Masjid ini cukup unik karena untuk masuk kita harus melewati lorong bawah tanah yang saat ini sudah rapi dan bersih. Berbeda dengan beberapa tahun lalu.

Puas menemani para cowok mengambil foto, kami bergegas ke Taman Sari melewati jalan sempit di kampung. Aaargh.... terlambat!! Jam 4 Taman Sari Water Pallace sudah tutup. Tapi aku ingat, kami bisa mengintip, meski memang ga bisa masuk ke dalamnya. Hanya sedikit orang yang tahu tempat rahasia ini. Yah, dari pada teman-temanku kecewa karena ini hari terakhir kami di Yogya. Dan taraaaa... keduanya langsung tersenyum sumringah!!
Dari Taman Sari kami berjalan ke Warung Buu Ageng didaerah Tirtodipuran. Setiap kali aku ke Yogya, pasti mampir kesini. Pengen mengenalkan makanan khas Jawa pada teman-temanku. Berjalan kaki dari Taman Sari ke warung Bu Ageng cukup panjang. Sampai disana kami kecewa karena resto - nya ternyata tutup. Aku lupa kalau tiap hari Senen mereka tutup #doh!!! Karena capek dan lapar kami memutuskan makan di resto Lekker.

Sehabis makan kami naik becak motor ke St. Tugu untuk tukar karcis kereta. Dari St.Tugu jalan kaki menuju Sosrowijayan untuk refleksi kaki. Beugh!! Setelah jalan kaki seharian telapak kakiku ternyata butuh di pijit. Sebenarnya Manu dan aku yang paling excited buat refleksi dan sebagai minoritas, Hardy ngikut saja. Selama satu jam kami merem melek di Refleksi KAKIKU.

Dari Sosrowijayan lanjut jalan kaki ke Hostel dengan kondisi jauh lebih segar. Kemudian mampir di pusat oleh-oleh untuk menemani Hardy membeli buah tangan. Di hostel kami mengambil barang ransel dan langsung naik taxi ke St. Tugu.

Karena masih agak lama, ga ada salahnya menikmati angkringan di sekitar St. Tugu. Menikmati camilan dan kopi joss yang ajieb punya sebelum kami beranjak menuju Malang. Last nite at Yogya, but it won't be the last time I come home... ^.^

Desember 29, 2013

NYE Edition : Mendadak Yogyakarta dan Borobudur... (lagi)


Berhubung bapak Boss pulang ke negaranya, jadi aku bisa libur panjang tanggal 24 Desember - 10 Januari padahal gak ada rencana sama sekali. Jadi aku komporin saja si Hardy yang lagi menikmati masa nganggur karena pekerjaan barunya mulai awal Januari. Jadilah kami merencanakan liburan dadakan untuk menjajah dari Malang melipir ke Bali.

Tapi mendadak ada permintaan teman dari Jerman yang juga dadakan merencanakan liburan ke Indonesia. Jadilah itenerary diubah sedikit dengan mengambil Yogya dan sekitanya sebelum ke Malang. Apalagi Hardy juga belum pernah ke Yogya. Okey ... let's the journey began....

Jam 5 sore kami sudah siap di terminal Lebak Bulus. Bis yang harusnya berangkat jam 5 ngaret sampai jam 6 sore. Si teman bule yang baru pertama kali ke Indonesia bertanya dan sedikit komplen. Hihihi... welcome to Indonesia Manu, where everything and everyone loves being late!!

Dalam bis nyaris semalaman kami ngobrol. Itulah, beda negara, beda budaya dan banyaknya tabrakan budaya membuat obrolan kami jadi menarik. Gak sadar mulut gak berhenti dari start bis berangkat sampai lewat tengah malam. Kecapekan ngobrol akhirnya kami tewas. Bangun-bangun saat supir teriak BUMIAYU!! Ternyata bis-nya lelet banget. Sudah jam 7 tapi masih masih sampai di Bumiayu. Di perkirakan bis akan sampai di Yogya jam 1 siang. DOH...!!!

Fiiiuuuh!! Yogya panas membara. Menyusuri Sosrowijayan sangat menarik. Karena semua hostel sudah penuh saat di telepon, jadi terpaksa go show. Kami menebukan hotel borobudur yang lumayan resik dengan satu tempat tidur dan extra bed. Hari ini pengen molor sebentar setelah tidur tak nyenyak di bis. Tapi Hardy milih jalan-jalan.
Malam hari kami makan, sambil jalan-jalan nyari penginapan baru. Baru kusadari betapa lugunya aku di wilayah ini. Gak sadar kami memasuki wilayah pasar kembang. Tempat club dangdut dan mbak-mbak penghuninya. Alhasil si Hardy jadi salting karena malu dan Manu ketawa-tawa geli karena ditawarin dan aku ... semoga bukan dikira salah satu penghuninya. Berputar-putar melewati labirin kecil yang remang-remang dan hingar-bingar, akhirnya kami bisa menemukan jalan utama. Fiuh....!! Pencarian hostel malam ini gagal.

Esok paginya sambil sarapan aku coba-coba telepon Edu Hostel langgananku kalo kepepet nginep di luar rumah. Mas-nya berhasil menyisipkan kami bertiga di tengan para waiting list. Wuiiih... pelayanan pelanggannya top markotop deh. Dan kamipun selamat dari hotel-hotel mahal (sebagai opsi terakhir kalo gak dapat penginapan).

Setelah check in  di EDU Hostel, kami melanjutkan perjalanan ke Borobudur. Naik bis Ke terminal Jombor, disambung bis ke terminal Borobudur dan naik becak ke Candi Borobudur. Borobudur bener-bener seperti lautan manusia. naik tangga dan turun tangga sepertinya penuh perjuangan. Jika bukan demi dua lelaki itu, aku milih duduk manis di bawah pohon rindang, menghindari kulit menghitam karena terpanggang matahari. Lebih lucu, saat itu aku menemukan banyak kelompok anak-anak yang sedang belajar bahasa Inggris dan semangat banget meng-interview Manu. Hahaha, si mas Manu ga tega menolak wajah polos anak-anak itu sehingga interview jadi tambah lamaaa.... tambah banyaaak dan mendadak sudah jam 2 sore. Kyaaa... kami harus ke Prambanan hari ini juga!!

Entah karena kepanasan atau kecapekan atau kenapa, aku mendadak sangat pusing dan mual. Kata Hardy  memang panas sekali, dan mungkin kita terdehidrasi. Akhirnya mampir ke sebuah restoran yang berada diseberang terminal. Katanya terkenal enak tapi ternyataaaaa.... #no-mention.

Dari terminal Borobudur kami lanjut ke terminal Giwangan. Tapi ternyata bus hanya sampai ke Jombor. Tawar menawar taxi dapat 350 tanpa argo. Jadinya kami schedule ulang dan Prambanan buat besok pagi saja. Malah kita muter-muter Malioboro, makan risol Malioboro yang membuatku tergila-gila, makan oseng-oseng mercon deket Hostel yang aduhai... MERCOOON banget!! Hardy langsung tambah item saking merah padam. Manu langsung bilang noooooooo.....!! Pokoknya judul malam ini, makan besar.

Desember 26, 2013

Touring Gunung Padang


We wish you a Merry Christmas!!!

Trip Natal ini dibuat untuk anak perantauan yang tidak bisa merayakan bareng bersama kelurga karena tiket kelewat mahal dan kebiasaan yang selalu spontan jadi telat beli tiket mudik. Acaranya seperti biasa, diadakan secara dadakan seminggu sebelumnya dengan peserta 4 orang dengan 2 buah motor, tidak tahu rute dan hanya tahu destinasi. Tapi mendekati hari H, banyak yang ngacung dan nongol di meeting point.

Jam 6 pagi aku terbangun oleh alarm. Mata terasa berat karena habis begadang dengan teman-teman tadi malam. Meeting point di PCG Cililitan jam 8, tapi molor jam 9, kemudian jam 10 dan akhirnya jam 10.30 baru memulai perjalanan. Ada saja alasan buat ngaret. Kebablasan tidur, gak tau arah meeting point - haelaaah.... sampai meeting point pun masih ada pada bebelian jas hujan, sarapan de-el-el. LOL.
Perjalanan aku pikir hanya akan memakan waktu selama 4-5 jam. Tapi dengan segala macet berat dan hujan antara Bogor ke Sukabumi dan lagi bisa kebanyakan para peserta adalah newbie, akhirnya sekitar jam 9 malam kami baru sampai di wilayah Warung Kondang. 10 jam perjalanan kami.... sueeeerrrr!!!

Karena sudah jam 8 malam dan capek berat, diputuskan untuk bermalam dulu di Warung Kondang, baru besok paginya melanjutkan perjalanan ke Situs Megalitikum Gunung Padang yang kira-kira masih 15 kilometer dari Warung Kondang. Malam ini udaranya lumayan dingin. Walhasil mampir dulu untuk mengisi perut dengan sop kambing. Lumayan, bikin anget sambil bertanya-tanya sama bapak warung soal penginapan.

Kami menginap di hotel TP yang lumayan bagus untuk backpacker. Kami memesan 2 kamar untuk para cewek dan cowok. Syukurlah karena si bapak tampaknya kasihan melihat gerombolan kami yang kucel dan memelas, beliau memperbolehkan 1 kamar diisi lebih dari 3 orang. Setelah check in, kami pun langsung bebersih dan tepar.

Pagi harinya, setelah sarapn kami langsung meluncur ke tujuan. Melewati perkampungan dengan jalanan yang rusak berat. Jadi gak bisa ngebut. Mesti extra hati-hati kalo gak mau terperosok ke lubang atau jatuh. Setelah perkampungan tibalah menyusuri jalan aspal yang lumayan mulus di tengah kebun teh. Jalannya puanjaaaang banget sampai akhirnya ketemu satu perkampungan lagi.

Usut punya usut ternyata kita salah arah. Bukan Gunung Padang yang kita temui tapi Stasiun Kereta Api Lampegan. Kebetulan banget. Stasiun tua ini dibangun pada tahun tahun 1882. Ada KA Siliwangi dengan rute Sukabumi-Cianjur-Lampegan namun sementara ini stasiun KA Lampegan ditutup karena adanya longsor di daerah Cibeber-Lampegan dan masih dalam perbaikan. Stasiun ini hanya berjarak sekitar 8 kilometer dari Situs Gunung Padang. Byangin aja kalau KA Siliwangi berfungsi kembali. Pasti Gunung Padang langsung ramai pengunjung. Jadi karena sepi, kami ada alasan buat narsis disitu. Walaupun matahari memanggang.
Puas bernarsis ria dan bertanya beberapa kali dengan penduduk, perjalanan berlanjut melewati perkebunan teh, bukit-bukit dan kampung kecil. Pemandangan yang ajieb benar-benar membuatku menikmati perjalanan ini. Gak ada rasa capek walau harus naik motor sendirian selama berjam-jam. Mata dan hati rasanya puaaaas banget.

Setelah itu sampailah kami di gerbang Situs Megalitikum Gunung Padang terletak di desa Karyamukti, kec. Campaka, kab. Cianjur, Jawa Barat. Terletak di ketinggian 885 dpl dan luas 3 hektar, situs ini menyajikan pemandangan hijau yang memukau dari pegunungan sekitarnya. Konon situs ini mempunyai luas bangunan sekitar 900 meter persegi, merupakan situs punden berundak - tempat pemujaan terhadap leluhur - tertua di Asia Teggara dan konon lebih tua dari piramida Giza di Mesir. Memang gak banyak yang bisa dilihat selain pemandangan alam dan batu-batu dari reruntuhan. Tapi dilihat dari segi budaya, aku sendiri bakalan terkagum-kagum dengan pemikiran pendahulu kita.
struktur Gunung Padang courtesy dailygrail.com

Puas menikmati pemandangan, kami menuruni bukit. Saatnya untuk isi perut!! Mie bakso menjadi andalan karena cepat karena kami harus melanjutkan perjalanan ke Curug Cikondang yang masih sekitar 10 kilometer lagi.

Tapi apa daya alam berkata lain. Hujan mengguyur di tengah perjalanan sehingga kami harus berteduh ditengah perkebunan teh. Kata penduduk pun bakalan berbahaya jika kami nekat ke Curug Cikondang karena jalan tanahnya yang licin, jadi diputuskan untuk langsung pulang ke Jakarta karena takut kemalaman dan besok harus ngantor seperti biasa. 

Okey Cianjur... Thank you! We have fun today. See you another time...

R.I.P JAX, HONDA Beat merah B 6422 CSG-ku yang telah hilang digondol maling. Gak nyangka ini touring terakhir kita : (